Selasa, 28 Mei 2013

Awas...!!! Memandang Lawan Jenis dengan Syahwat

Diantara hal yang diharamkan oleh Islam – menyangkut naluri seksual – ialah lelaki berlama-lama memandang perempuan atau sebaliknya. Karena mata adalah kunci pembuka hati, sedang memandang kepada lawan jenis dapat mengantarkan fitnah dan perzinaan.
Awas...!!! Memandang Lawan Jenis dengan Syahwat
Oleh karena itu Allah mengarahkan perintah-Nya kepada orang Mu’min laki-laki dan perempuan secara keseluruhan agar mereka menundukan pandangannya. Perintah ini diiringi dengan dengan perintah menjaga kemaluan:

“Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman:’Hendaklah mereka menahan pandangannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” (an-Nur:30)

“Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman :’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecualai yang biasa tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka , atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka , atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki , atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita . Dan janganlah mereka memukulkan (menghentakkan), kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (an-Nur:31)


Di dalam kedua ayat ini terdapat sejumlah pengarahan pengarahan Ilahi, diantaranya terdapat dua pengarahan bagi kaum laki-laki dan wanita secara bersama-sama, yaitu menahan pandangan dan memelihara kemaluan, disamping pengarahan lainnya secara khusus ditujukan kepada kaum wanita.

Perlu diperhatikan bahwa kedua ayat itu memerintahkan kita untuk menahan sebagian pandangan , bukan menahan pandangan secara total. Sedang mengenai masalah memelihara kemaluan ayat itu tidak mengetakan: ”Wa yahfazhuu min furuuzihim“ dengan menggunakan huruf “min” yang menyatakan lit-tab’idh/sebagian-penj.), sebagaimana Dia mengatakan “Yaghudhdhuu min abshaarihim” (dengan menggunakan huruf “min” yang menyatakan tab’idh-Penj.) dalam masalah pandangan. Karana dalam masalah kemaluan , kita diperintahklan untuk menjaganya secara total tanpa da toleransi sekalipun. Sedangakan masalah pandangan, Allah memberi toleransi sedikit bagi manusia untuk menghilangkan kesulitan dan menjaga kemaslahatan sebagaimana akan kita lihat nanti.

Menahan pandangan bukan berarti menutup atau memejamkan mata sama sekali , atau menundukan kepala ke tanah saja, karena bukan ini yang dimaksudkan di samping tidak akan mampu dilaksanakan. Sebagaimana halnya menahan suara yang tercantum dalam firman Allah :”Dan tahanlah suaramu “ (Q.S. Luqman:19) bukan berarti menutup mulut rapat-rapat tanpa berbicara sama sekali.

Yang dimaksud dengan menahan pandangan ialah menjaganya dan tidak melepas kendali secara liar. Pandangan yang terpelihara ialah apabila memandang lawan jenis tidak mengamat-amati kecantikannya, tidak berlama-lama memandangnya, dan tidak memelototi apa yang dilihatnya. Oleh karena itu Rasulullah saw berpesan kepada Ali bin Abi Thalib:

“Wahai Ali, janganlah engkau ikuti satu pandangan dengan pandangan yang lain (yakni memandang dan memandang lagi). Karena kamu hanya diperbolehkan pada pandangan yang pertama saja, sedang pandangan berikutnya tidak diperbolehkan.”(HR: Bukhari)

Nabi saw mengangggap pandangan liar dan memelototi lawan jenis itu sebagai perbuatan zina mata. Beliau bersabda: “Dua mata bisa berzina, dan zinanya adalah memandang.”(HR:bukhari)

Beliau menyebutnya dengan “zina” karena memandang lain jenis merupakan salah satu bentuk taladzddzudz (bersenag-senang atau menikmati) dan memuaskan naluri seksual denagan cara yang tidak dibenarkan syara’.

Pandangan yang lapar dan mencari kepuasan ini bukan hanya membahayakan kesucian moral saja, akan tetapi juga membahayakan kestabilan fikiran dan ketenangan hati, sehingga membuatnya kacau dan goncang. Seorang pujangga berkata:
“Bila kau lepaskan pandanganmu untuk mencari kepuasan hati
Pada suatu waktu pandangan itu akan menyusahkanmu
Engkau tidak tahan melihat semuannya
Bahkan terhadap sebagiannya pun engkau tak bisa tahan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar